Ada sepasang sahabat bernama Fitri dan Tsanaa. Mereka sangat
akrab sejak SD dulu. Mereka selalu jajan bersama, mengerjakan pr bersama, main
bersama, dan lain-lain.
Suatu hari, Tsanaa melihat ada pembukaan toko buku baru di dekat rumahnya. Ia pun berniat mengajak Fitri untuk ke toko buku itu bersama.
Tsanaa: “Fit, mau nggak nanti ke toko buku bareng? Di dekat
rumahku ada toko buku yang baru aja dibuka.”
Fitri: “Ayok, aku juga bosan nih, nanti jam berapa?”
Tsanaa: “Jam 3 saja ya, kita ketemuan di minimarket saja.”
Fitri: “Oke, jangan lupa ya!"
Kemudian, mereka pun bertemu di minimarket sesuai perjanjian
yang tadi. Mereka pun berjalan bersama ke toko buku tersebut. Jaraknya tidak
terlalu jauh, mereka hanya perlu berjalan sekitar 10 menit.
Sesampainya di sana, mereka berkeliling toko buku tersebut
bersama. Secara bersamaan, mereka melihat ada sebuah tempat pensil yang
bermodel unik. Mereka sama-sama ingin memilikinya, tetapi barang tersebut hanya
tersisa satu saja.
Dengan cepat, Tsanaa mengambil tempat pensil tersebut.
Namun, Fitri juga berusaha merebutnya.
Tsanaa: “Apaan sih kamu Fitri, jelas-jelas aku duluan yang
ngeliat tempat pensil ini!”
Fitri: “Lah apaan, aku duluan! Kamu pasti cuman ngikutin
aku!”
Tsanaa: “Aku!”
Fitri: “Aku!”
Tsanaa: “Dasar keras kepala! Pokoknya ini milikku!”
Tiba-tiba, salah satu karyawan toko buku itu mendatangi
mereka. Karyawan toko itu berusaha melerai mereka, karena pertengkaran mereka semakin sengit.
Astri: “Hey kalian kenapa ribut-ribut sih?”
Fitri: “Ini mbak, dia jahat banget! Saya pengen beli tempat
pensil itu, tapi dia ngerebut!”
Tsanaa: “Fit, gausah memutarbalikkan fakta deh, jelas-jelas
aku duluan yang liat!”
Astri: “Sudah sudah,
gimana kalau kalian tunggu saja? Stoknya baru ada bulan depan. Biar bisa
beli bareng-bareng.”
Tsanaa: “Aku maunya sekarang!”
Tsanaa merebut tempat pensil itu dari genggaman Fitri, dan
membawanya ke kasir. Kemudian, dia menoleh ke arah Fitri dengan tatapan sinis.
Fitri membuang muka, bersikap acuh.
Fitri: “Aku mau pulang! Aku males sama kamu, dasar gak tau
diri!”
Karyawan toko tersebut hanya bisa menggelengkan kepala.
Setelah Tsanaa membayar di kasir, ia pun langsung pulang ke rumah tanpa memerdulikan
Fitri.
Esok harinya. Fitri tidak duduk di samping Tsanaa seperti
biasanya. Ia lebih memilih untuk duduk di pojok bersama Iik.
Gading: “Wah, Tsan, tempat pensilmu bagus banget!”
Diva: “Iya, beli dimana? Aku juga mau dong!”
Iik: “Bagus sih, tapi hari ini kamu ada yang aneh, deh!”
Tsanaa: “Apanya yang aneh, ik?”
Iik: “Hari ini kamu nggak duduk sama Fitri.”
Tsanaa: “Aku nggak peduli sama dia, dia itu tukang ngerebut
hak milik orang! Udah gitu dia bawel banget jadi orang!”
Diva: “Tsan, kamu jangan gitu dong. Emangnya ada bukti yang
jelas kalo dia mau ngerebut barang kamu?”
Gading: “Iya, parah kamu Tsan.”
Iik: “Seharusnya kamu jangan menuduh orang kayak gitu.”
Tsanaa: “Sudah ah, aku malas sama kalian. Lama-lama kalian
bawel kayak Fitri.”
Tsanaa pun pergi meninggalkan kelas.
Hari-hari berlalu. Tsanaa mulai merasakan kesepian karena
tidak mungkin dia bergaul dengan Fitri, Gading, Iik, dan Diva. Saat di perjalanan pulang menuju rumah, ia
pun memiliki ide untuk meminta nasihat kepada ibunya.
Tsana: “Buuu …”
Bu Ujin: “Ada apa nak?”
Tsanaa: “Aku mau minta saran dong. Jadi gini, aku lagi ada
masalah sama temen aku.”
Bu Ujin: “Masalah apa ya? Ayo sini kita ngomongnya sambil
duduk aja biar enak.”
Tsanaa: (sembari duduk) “Jadi gini, aku berantem sama Fitri gara-gara
tempat pensil. Tempat pensil itu motifnya bagus, nah aku sama dia sama-sama
pengen beli. Karena gak ada yang mau ngalah, akhirnya kita jadi musuhan.
Lagian, dia orangnya juga tukang ngerebut sih!”
Bu Ujin: “Ooh, sekarang tempat pensil itu ada di siapa?”
Tsanaa: “Aku, bu.”
Bu Ujin terdiam sebentar. Kemudian, ia memperbaiki posisi
duduknya.
Bu Ujin: “Tsan, seharusnya kamu nggak seperti itu. Kalau
kalian emang sama-sama pengen tempat pensil itu, kalian nggak harus berantem
untuk memperebutkan itu.”
Bu Ujin: “Mungkin bukan maksudnya dia untuk ngerebut.
Lagipula, persahabatan itu lebih berharga dari sekotak tempat pensil. Masa
persahabatan kamu hancur cuman gara-gara tempat pensil aja?” Bu Ujin tertawa.
Tsanaa pun malu mendengar nasihat ibunya. Ia merasa bersalah
atas apa yang ia lakukan pada Fitri waktu itu. Karena setelah dipikir-pikir,
rupanya Fitri lebih membutuhkan tempat pensil itu daripada dirinya. Ia berniat
untuk meminta maaf pada Fitri. Esoknya, ia langsung mendatangi Fitri.
Tsanaa: “Fitri!”
Fitri: “Apa, mau ngajak ribut? (sinis)”
Tsanaa: “Aku mau minta maaf. Seharusnya aku nggak ngomong
kalo kamu bawel, tukang ngerebut hak milik orang, dan sebagainya.”
Tsanaa: “Nih, kalau mau tempat pensilnya, kayaknya ini lebih
pantas buat kamu deh. Aku masih punya yang lain. Ini buat kamu aja.”
Fitri: “Yakin? (ragu-ragu)”
Fitri: “Makasih ya, Tsan. (sambil tersenyum)”
Tanpa mereka sadari, teman-temannya daritadi memperhatikan
mereka. Gading, Iik, dan Diva juga ikut tersenyum melihat mereka.
Iik: “Cie, udah baikan nih ye?”
Fitri: “Apa sih iik…(malu?-__-a)”
Diva: “Pokoknya yang penting kalian udah sahabatan lagi kan
ya?”
Tsanaa: “Iya dong. Oiya, aku juga mau minta maaf sama kalian
karena aku udah ngejek kalian waktu itu.”
Gading: “Udah gapapa. Kita kan temen.”
Setelah kejadian itu, mereka pun tidak pernah bertengkar
lagi. Mereka tidak mau merusak persahabatan mereka hanya dengan hal-hal kecil.
Tsanaa pun sekarang tidak hanya bersahabat dengan Fitri, tetapi juga dengan
Iik, Diva, dan Gading. Tsanaa pun melewati hari-harinya dengan bahagia bersama
sahabat-sahabatnya.
No comments:
Post a Comment